Tuesday, July 26, 2011

Waktu

Tidak ada angin dan hujan tiba2 ibunya Konyil mendegar kabar kalau teman kantor yang cukup dekat telah berpulang. Saya yang juga cukup familiar dengan kawan ini juga sama kagetnya. Bukan apa2 karena seminggu yang lalu saat baru kembali dari liburan ke Jakarta istri saya sempat mengupdate tentang kawan ini. Bahkan 12 jam sebelum berita diterima, istri saya sempat berkomunikasi melalui jejaring sosial berbasa-basi tentang update sehari-hari. Sakit jantung adalah berita yang diterima sebagai penyebab tiadanya kawan ini.

Memang bagi kita manusia, wajar jika susah memerima kenyataan yang berat seperti ini. Istri saya pun sampai detik ini masih belum bisa percaya akan kenyaaan berita ini. Waktu bagi manusia adalah selalu menjadi misteri. Kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi lima menit ke depan. Hanya rencana yang bisa kita lakukan.

Ya Allah, kami manusia hanya bisa merencana..sedangkan Engkaulah yang menjadi penentu takdir ini. Mari kawan-kawan kita gunakan waktu kita sebaik-baiknya.

Friday, July 15, 2011

Tergantung dari mana kita melihat

Saya teringat saat mengikuti training 7 Habits di Puncak 2 tahun yang lalu. Salah satu ilustrasi yang digambarkan pada modul video adalah tentang seorang lelaki yang naik bis kota dengan dua anaknya. Di dalam bis kedua anak tersebut bertingkah macam-macam yang intinya mengganggu penumpang lain. Sementara ayahnya hanya terdiam tanpa berbuat apa2. Lalu ada seorang penumpang yang sudah merasa sangat terganggu memberanikan diri menegur ayah anak tersebut. " Pak tolong beritahanak2mu untuk tidak berulah yang mengganggu penumpang lain". Si ayah tersebut seakan terbangun dari lamunannya dan menjwab "Maafkan kelakuan mereka, saya juga tidak tahu harus bilang apa. Istri saya baru saja meninggal di rumah sakit dan mereka berdua belum mengetahuinya. Saya tidak tahu dan tidak punya hati untuk merenggut kegembiraan mereka". Seolah sang penumpang tadi berputar 180 derajad dari rasa sebal menjadi kasihan. Di sinilah letaknya bahwa sesuatu jika kita melihat darisudut pandang yang berbeda akan memberi persepsi yang berbeda pula.

Ini yang ingin saya terapkan terhadap saya pribadi. Saat ini saya dan ibune Konyil sedang berjibaku untuk ngepas-paske belanja bulanan kami selama tugas di rantau ini. Kami berusaha tidak merubah gaya hidup kami meski sebenarnya dengan tambahan tunjangan kami hal itu dimungkinkan. Tujuan kami masih banyak dan itu yang akan kami prioritaskan saat ini.


Mungkin orang akan melihat bahwa kami terlalu memaksakan diri dan tidak memberi rang untuk kesenangan. Namun kami berusaha melihat beda: bahwa hal ini kami lalukan dengan cinta untuk mendapatkan tujuan akhir yang lebih bagus. Ada lagu lama yang punya ilustrasi sama dengan ini judulnya It's aint heavy, it's my brother.

Wednesday, July 13, 2011

Ngecakne butuh

Saya mengutip phrase orang Jawa jika sedang membuat hitung-hitungan keperluan sehari-hari. Ngecakne butuh adalah kata yang tepat untuk menggambarkan keadaan kami saat ini. Disaat semua keperluan datang bersamaan, yang harus kita lakukan adalh memilah-milah mana yang paling penting, agak penting, dan rak penting blas. Tentunya saya dan bune Konyil sekarang ini melototi urusan yang paling penting...lha ndilalah kok ya setelah dipikir2 urusan paling penting nya lebih dari satu....ya wis lah kita berjibaku, ubet biar semua mendapat pemerataan.


Di postingan terdahulu saya ceritakan saat ini kami lagi pendekatan untuk mendapatkat lahan yang lebih longgar untuk gubuk kami tinggal. Alhamdulillah bune Konyil kemaren mesenger ngabari kalau sudah jelas kesepakatannya. Deg2an nya ilang sekarang ganti mumet datang...pasalnya kemaren kami memang agak "bonek" saat memutuskan mau nawar lahan itu. Begitu jadi dananya mepet dan disaat yang bersamaan Konyil harus ada dana ekstra untuk tahun ajaran baru di sekolah. Yo wis nduk Bapak tak ngalahi tidak jajan di kantor...sebisa mungkin bawa bekal dari rumah.

Pada akhirnya kami bersyukur gegayuhan kami ada titik terang...mudah2an orang tuamu bisa menemukan jalan lancar kedepan yo nduk...Amin.

Tuesday, July 12, 2011

Deg-deg an

Mungkin kita sudah biasa dengan kondisi saat kita sedang menanti-nanti sesuatu entah kejelasan informasi, hasil test atau bahkan jika kita di kantor merasa lapar sekali, pas pulang sambil nyetir membayangkan orang rumah masak apa ya..he he kebangeten kalau yang terakhir ini. Tapi begitulah rasane atiku hari-hari ini.

Ceritanya saya dan buk e Konyil lagi ada gegayuhan buat cari tempat iyup-iyup yang agak gedhe. Tentunya yang sesuai celengan kami berdua budgetnya. Hunting dari 4 bulan yang lalu selalu tidak ada yang jodo....kalau gak kedisikan orang, ya suratnya yang gak jelas. Terakhir kemaren pas saya ke Jakarta ada tempat yang cukup luas degan bentuk yng ideal..eh kok ya jalan masuknya harus nunut lahan orang lain.

Tapi kali ini mudah2an bune Konyil berjodoh. Sudah beberapa kali komunikasi dengan pemiliknya dan berharap besok ada kejelasan. Ini yang bikin deg-deg an karena sampai dengan detik ini hanya kesepakatan secara lisan saja yang dilakukan sementara bisa saja ada pihak lain yang masuk dan bikin penawaran lebih ke pemilik itu.

Ya wis bune pasarah Sing Kuwoso saja...kalau ini jodo kita ya pasti ndak lari kemana-mana. Ning ya itu...tiap detik bikin spot jantung......Bismillah wae ya.

Cah kulon kali - posting pertamaku

Ini merupakan posting pertama saya di blog ini. Sedikit cerita mengenai blog ini: saya membuatnya sebagai hiburan untuk menuangkan beberapa laporan pandangan mata, konsen, ide ataupun sekedar informasi ringan. Bukan bertujuan untuk gaya - gayaan, namun ini merupakan pengobat rindu saya pribadi selama "nyantrik" jauh dari kampung halaman saya di perbatassan Jawa Timur dan Jawa Tengah.

Mungkin dari judul blognya sudah ketahuan kalau saya ini Jawa katrok. Cah kulon kali bermakna anak yg tinggal daerah seberang Barat sungai. Memang nama blog ini saya sengaja buat untuk mengabadikan rumah dimana saya dibesarkan dari bayi hingga lepas sekolah. Letaknya di sebrang kali sat (sungai yang tidak ada airnya). Sungai ini merupakan sungai tadah hujan dimana hanya akan dialiri air kalau musim hujan.

Saya sendiri merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Dilahirkan dari seorang Ibu yang berprinsip sederhana, pensiunan pegawai puskesmas di kecamatan pelosok Jawa dan seorang Bapak yang juga pensiunan mantri kesehatan di Puskesmas daerah saya. Saya telah berkeluarga, istri saya yang luarbiasa merupakan partner, teman dan supporter saya. Kami dikaruniai seorang anak perempuan yang luar biasa. Saya biasa memanggilnya konyil karena keusilannya, namun dibalik itu saya melihat potensi yang cukup besar padanya.

Saya memiliki adik lelaki yang sampai saat ini juga belum mendapatkan jodohnya (nunggu opo to le) serta adik perempuan yang masih sekolah di Jogja (cepet lulus yo nduk).

Semoga di masa-massa mendatang saya bisa rutin mengisi blog ini. Amin.