Friday, July 15, 2011

Tergantung dari mana kita melihat

Saya teringat saat mengikuti training 7 Habits di Puncak 2 tahun yang lalu. Salah satu ilustrasi yang digambarkan pada modul video adalah tentang seorang lelaki yang naik bis kota dengan dua anaknya. Di dalam bis kedua anak tersebut bertingkah macam-macam yang intinya mengganggu penumpang lain. Sementara ayahnya hanya terdiam tanpa berbuat apa2. Lalu ada seorang penumpang yang sudah merasa sangat terganggu memberanikan diri menegur ayah anak tersebut. " Pak tolong beritahanak2mu untuk tidak berulah yang mengganggu penumpang lain". Si ayah tersebut seakan terbangun dari lamunannya dan menjwab "Maafkan kelakuan mereka, saya juga tidak tahu harus bilang apa. Istri saya baru saja meninggal di rumah sakit dan mereka berdua belum mengetahuinya. Saya tidak tahu dan tidak punya hati untuk merenggut kegembiraan mereka". Seolah sang penumpang tadi berputar 180 derajad dari rasa sebal menjadi kasihan. Di sinilah letaknya bahwa sesuatu jika kita melihat darisudut pandang yang berbeda akan memberi persepsi yang berbeda pula.

Ini yang ingin saya terapkan terhadap saya pribadi. Saat ini saya dan ibune Konyil sedang berjibaku untuk ngepas-paske belanja bulanan kami selama tugas di rantau ini. Kami berusaha tidak merubah gaya hidup kami meski sebenarnya dengan tambahan tunjangan kami hal itu dimungkinkan. Tujuan kami masih banyak dan itu yang akan kami prioritaskan saat ini.


Mungkin orang akan melihat bahwa kami terlalu memaksakan diri dan tidak memberi rang untuk kesenangan. Namun kami berusaha melihat beda: bahwa hal ini kami lalukan dengan cinta untuk mendapatkan tujuan akhir yang lebih bagus. Ada lagu lama yang punya ilustrasi sama dengan ini judulnya It's aint heavy, it's my brother.

No comments:

Post a Comment